Pages

Jumat, 12 April 2013

Orang Tak Bermoral


Seperti biasa sepulang dari tempat nongkrong bersama teman teman terbaring ku disofa tua yang sudah semakin sobek dan kusam seakan memaksa tuk segera menggantinya dan terselip sebatang rokok disela sela jari tangan yang kasar ini serta headset yang menempel dikedua daun telinga mendengarkan lagu lagu favorit pengantar tidur malam ini.

Sambil menghisap dan menghembuskan asap rokok yang keluar dari lubang bibir dan hidung ku termenung sekedar mengingat sesuatu yang telah terlewati pada hari ini dan sebelumnya. Huft! Terbesit kekesalan yang teringat saat kemarin aku mencari sebuah remote televisi yang sudah terlalu tua, kusam, berantakan dan sudah tidak bisa digunakan lagi (baca: rusak).

Kesana kemari, dari satu toko ke toko yang lain ditemani oleh motor tua kesayangan yang baru saja kuperbaiki,lumayan sudah sedikit membaik kondisi nya dan bisa melaju kencang meski tak sekencang pesawat tempur yang hanya dengan beberapa detik saja bisa sampai ketempat tujuan.

Ya, toko pertama aku datangi, lalu bertanya apakah ada menjual remote televisi jadul merk tak terkenal yang sudah tidak ada dijual dipasaran. penjual menjawab tidak ada sambil memegang remote tersebut. Kemudian bergegas melaju kembali memacu sikuda besi tua menuju ke toko berikutnya, begitu sampai langsung aku parkir, standartkan motor dan masuk ke toko tersebut. Kembali ku bertanya apakah ada menjual barang yang aku cari, Argh...!!!! aku dicuekin oleh penjualnya, aku terdiam dan berpikir sejenak sembari bertanya tanya dalam hati mengapa seperti ini ? Yah, ternyata karna penampilanku yang sangat kusam, lusuh dan seperti seorang gelandangan yang mengenakan celana robek tak beraturan. Langsung saja tanpa basa basi, akupun pergi meninggalkan toko tersebut dan mencoba mencari kembali toko lain.

Toko terakhir yang aku datangi, segera ku keluarkan barang antik, tua dan klasik namun sudah rusak berantakan. Ya, remote televisi. Penjual langsung bertanya, sedang mencari apa aku berada ditokonya ? Ya, pertanyaan bodoh dari penjual, sudah jelas dia melihat apa yang aku bawa dan sudah pasti barang itulah yang aku cari. "ya, kami ada barangnya, harganya 30 ribu rupiah, tapi merk telivisnya apa ?" kata penjual kepadaku. "sebentar ya, aku tanya kepada orang rumah karna tidak tahu jenis atau typenya" kataku menjawab.

Kembali aku menghampiri penjual dan memberitahu typenya, dengan cepat penjual mengeluarkan dan menjelaskan cara pemakaiannya, woooooow! tapiii! tiba tiba harga nya langsung berubah. ketika aku tanya " 30 ribu rupiahkan ?" penjual menjawab "35 ribu". Ah! apa apaan ini ?! belum juga waktu berlalu terlalu lama harga sudah berubah begitu cepat! Karna kesal, dengan tegas dan nada tinggi aku berkata "sudah, tidak jadi beli! masih banyak toko selain disini! Aku bukan orang bodoh yang bisa anda bohongi!" dan bergegas pergi dengan penuh kekesalan seolah ingin sekali rasanya membalik meja yang ada didepan penjual tersebut!

Dan lagi, hanya karna penampilan dan terlihat seperti orang bodoh, seringkali kita diacuhkan, dibodohi ataupun dimanfaatkan oleh orang orang yang tak bermoral seperti mereka!
Semoga sobat semua tidak pernah mengalami hal seperti ini.

sumber gambar : google
Selanjutnya

Selasa, 19 Maret 2013

Pasti Ada Jalan


Pagi itu matahari memberikan sinarnya seakan memaksaku tuk bangun dari tidur lelap dan mimpi yang masih setengah jalan. Ayam berkokok bersautan dan bercampur dengan candaan anak anak kecil yang sedang bermain disamping rumah begitu ceria dan bergembira. Sejuknya udara pagi menambah semangat dihari yang begitu cerah dan indah, ibarat seorang wanita cantik bertubuh mulus, berambut panjang terurai lembut, sedang tersenyum manis menghampiri dan menyapa mengajakku bercanda mesra.

Aku segera bangun dan bergegas kekamar mandi untuk membersihkan tubuh ini dan agar terlihat lebih fresh dan segar dengan harapan wanita cantik dikhayalan tadi benar- benar ada. Hah! Bodoh! Pagi begini sudah menghayal yang aneh-aneh. Pikirikan dirimu, Kamu itu pengangguran, Ucapku dalam hati untuk diri ini sendiri.

Selesai berpakaian langsung kukeluarkan motor kesayangan yang sudah agak butut, warna semakin pudar, mesin yang seolah seperti tua renta yang sedang batuk tersengal-sengal tapi tetap setia menemaniku kemana saja dengan penuh ketulusan.

Hari ini Aku harus mendapatkan pekerjaan! harapanku dalam hati sambil mencoba menyemangati dan memberi motivasi untuk diri sendiri. Aku persiapkan keperluan untuk melamar, dari tas yang sudah sobek karna usia yang sangat tua, bolpoint yang mirip mobil kehabisan bensin sehingga tidak bisa berjalan dengan baik alias macet, serta keperluan lain yang begitu penting untuk aku persiapkan.

Bagaikan seorang rakyat jelata yang sedang ingin melamar seorang gadis jelita, tubuh berkeringat bercampur debu jalanan yang tidak bersahabat ditambah dengan hinaan, cacian, ketidakpedulian dan keangkuhan orang orang yang merasa dirinya hebat. Ya! aku harus tetap berjalan meski semua itu terkadang membuat ku pesimis, Kupacu kencang motor kesayangan dan seolah berubah yang tadinya hanya seperti rakyat jelata sekarang sudah menjadi seorang pangeran berkuda yang gagah berani dan penuh dengan semangat perjuangan yang tinggi.

Satu per satu tempat aku singgahi, sesekali kuberistirahat dibawah pohon sambil melihat isi kantong, apakah masih ada cukup uang untuk membeli es kelapa yang terlihat begitu menggoda sedang melirik penuh gairah dan hasrat tuk dimiliki. Untungnya, masih ada sedikit uang untuk itu, tanpa basa basi sembari menahan haus yang begitu mendera seperti sedang berada di padang pasir yang panas dan menyengat aku langsung memesannya. Bang! Es kelapanya satu dong! ga pake lama ya sudah haus nich! sambil menunggu aku perlahan termenung, harus kemana lagi aku melangkah ?sudah terlalu lelah tubuh ini. Aaaaahh...!!!!! begitu keraskah hidup ini ?

Tiba-tiba kantong celana bergetar ternyata ada sebuah pesan masuk di sebuah ponsel jadul yang aku beli disebuah pasar tua disudut kota dengan harga yang murah tapi masih lumayan berfungsi dengan baik kalau hanya untuk sekedar untuk menelpon dan SMS. "Selamat Pagi, Mohon kehadirannya Besok...Bla..bla...bla..bla..." Yes! ternyata itu sebuah pesan untuk panggilan kerja. Dengan hati bahagia dan penuh keceriaan kembali kupacu kencang motor kesayangan menuju rumah untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi panggilan kerja tersebut.

Tok..tok..tok... Permisi, Selamat Pagi. Kalimat yang petama kali terlontar dari mulutku yang disertai dengan keyakinan, harapan dan doa dari seorang ibu yang selalu menguatkan setiap langkah ini. Akhirnya aku bisa mendapatkan apa yang menjadi kegelisahan kala itu. Memang benar pasti ada jalan ketika kita selalu berusaha tanpa putus asa dan penuh dengan kesabaran.


 sumber gambar : google
Selanjutnya

Jumat, 08 Maret 2013

Tinggalkan Bayangan Masa Lalu Yang Suram!

Sebenarnya apakah bayangan yang mengikuti kita atau kita yang mengikuti bayangan tersebut?

Mungkin ini pertanyaan bodoh yang keluar dari otak orang bodoh seperti aku, dan ada seseorang kawan yang menjawab "bayangan yang mengikuti kita, karna namanya juga bayangan seringkali dianggap berada dibelakang" Ah! semakin bingung menemukan jawabannya untuk orang bodoh seperti aku. Aku coba mengambil konteks bayangan dalam hal ini adalah "masa lalu yang suram". Tapi yang menjadi pertanyaan kembali adalah "apakah selamanya bayangan itu hanya berada dibelakang?"

Sepertinya tidak juga, karna ada pula bayangan yang berada didepan. Lantas bagaimana aku bisa menemukan jawaban yang tepat. Uh! sudah malam begini disoalkan dengan pertanyaan yang rumit seperti ini.

Ok, kembali dalam pembahasan, yaitu masa lalu yang suram. Siapa yang tidak pernah mengalami hal ini ? Bagiku, hampir semua orang pasti pernah mengalaminya. Bagaimana dengan sobat, apakah pernah mengalaminya juga ?

Dan seperti yang tertulis diatas jika konteks bayangan yang aku maksud adalah " masa lalu yang suram" berarti ada sebuah bayangan yang selalu ada dibelakang dan ada pula yang selalu berada didepan. Jelasnya adalah, Biarlah bayangan atau masa lalu yang suram tetap berada dibelakang, lebih tepatnya tinggalkan atau lepaskan dan jangan biarkan terus menghadang lalu membuat kita terbelenggu sedangkan masih ada jalan didepan yang seharusnya tidak terhalang oleh bayangan atau masa lalu yang suram.

Bukan harus melupakan masa lalu yang suram, akan tetapi ambilah pelajaran yang berharga untuk memperbaiki diri demi masa depan yang seharusnya cerah sudah menanti diujung sana.



sumber gambar : google

Selanjutnya

Rabu, 27 Februari 2013

Pilihan Semakin Banyak Karna Tidak Ada Tujuan Yang Jelas

Saat ini tepat waktu makan siang rasa lapar kembali melanda, segera ku merapikan meja kerja dan bergegas keluar ruangan menuju sebuah warung kecil diujung jalan dimana hampir setiap hari berada disini. Sampai disini ternyata masih harus menunggu makanan yang belum tersedia. Duduklah aku sendiri dikursi tua samping warung sambil menunggu pesanan datang, kubakar sebatang rokok tuk mengisi kekosongan ini, tak lama kemudian datang dua orang yang tidak aku kenal duduk disebelahku.

Rupanya mereka juga ingin memesan makan siang. Akupun mulai membuka pembicaraan dengan menawarkan rokok yang terletak dimeja depan kami. Dilanjutkan dengan cerita dari salah satu mereka tentang pekerjaan. Dia berkata tidak mudah untuk bisa mendapatkan pekerjaan, tanpa sadar diskusi dimulai, aku ikut merespon ceritanya tersebut.

Ada yang menarik dari diskusi ini, kami sepakat bahwa coba jalani saja ketika ada sebuah tawaran pekerjaan yang dimaksudkan sebagai langkah awal untuk melangkah dan mendapatkan yang lebih baik atau terbaik. Berlanjut pembahasan diskusi kearah "pilihan".

Benar, seringkali pilihan adalah sebuah dilema yang sangat sulit tuk dihindari,misalnya dalam konteks ini adalah mencari pekerjaan. Sebagai contoh : Aku adalah seorang lulusan sarjana, mendapatkan tawaran pekerjaan untuk menempati posisi yang  kuanggap tidak layak, biasanya berkenaan dengan gengsi seseorang.

Jelas pilihan akan muncul diantaranya adalah, pertama, aku tidak akan menerima pekerjaan itu karna gengsi, yakni dengan pendidikan dan kemampuan yang kumiliki hanya bekerja diposisi itu dan ujungnya akan tetap menjadi pengangguran dan tidak menghasilkan materi. Kedua, menerima pekerjaan itu meski banyak celaan yang dicibirkan orang lain karna pendidikan yang kumiliki tidak layak jika hanya untuk menempati posisi tersebut, tapi sebenarnya bisa menghasilkan materi.

Aku pikir sobat semua paham maksud dari contoh diatas. Pilihan kembali dihadapkan didepan. Dengan pertimbangan serta alasan yang jelas dan tegas akhirnya aku memilih pilihan yang kedua.

Kembali berbicara tentang pilihan, jika seperti contoh diatas hanya ada dua pilihan, bagaimana jika pilihan tersebut lebih banyak? Aku mencoba mengamati mengapa seringkali kita dihadapkan dengan begitu banyak pilihan yang rumit. Mengapa ?

Kembali kita ambil contoh : ketika kita keliling mengelilingi kota tanpa tujuan yang jelas, jalan manakah yang akan kita pilih ? Sudah pasti, begitu banyak kebingungan untuk menetapkan pilihan jalan mana yang harus kita lewati. Sedangkan, ketika kita sudah tahu pasti tujuan kita, misalnya ingin kepasar, pilihannya akan semakin berkurang karna tidak perlu mengelilingi kota jika hanya untuk menuju kepasar tersebut.

Sampai disini aku harap sobat mengerti apa yang dimaksudkan. Kita akan sulit melangkah atau menentukan pilihan ketika kita tidak punya arah, tujuan atau fokus yang jelas. Semakin tidak pasti arah,tujuan atau fokus tersebut akan semakin banyak jalan atau pilihan yang muncul, begitupula sebaliknya.

sumber gambar : google
Selanjutnya

Selasa, 12 Februari 2013

Pengusaha, Musisi, Psikolog, Politisi dan Penulis

Apakah cita-citamu ?

Sewaktu masih menjadi seorang siswa disebuah sekolah, seorang guru bertanya kepada seluruh murid yang ada dikelas tanpa terkecuali."Apakah cita-cita kalian setelah besar nanti?" begitulah pertanyaan yang disampaikan dengan wajah serius dan muridpun masing-masing menjawab dengan penuh semangat dan keceriaan. Begitu masuk pada giliranku yang harus menjawab, tiba-tiba saja terlintas dibenak dan langsung menjawab "Aku ingin menjadi pengusaha pak!" dengan tidak kalah semangat dan tetap penuh keceriaan yang sama dengan murid yang sudah menjawab sebelumnya. Setelah kami semua menjawab sebuah pertanyaan tadi, Sang guru kemudian memberikan arahan atau jalan agar kami semua bisa mencapai cita-cita tersebut.

Namun, sepanjang waktu berjalan entah mengapa, tanpa tahu alasan yang jelas dan mendasar tiba-tiba cita-cita itupun berubah. Saat pertama kali menjadi seorang mahasiswa, Aku berkeinginan untuk bisa menjadi seorang musisi hebat yang terkenal, Mungkin karna aku sedang berada dilingkungan yang penuh dengan orang yang mempunyai jiwa seni dalam hal ini adalah bermusik. Aku menjalani proses menuju cita-cita itu, cukup lama kesana kemari bergelut dengan alat musik dan not seolah seperti seorang musisi yang sangat aku impikan. Tapi, cita-cita itu kian berkurang, lagi-lagi tanpa tahu penyebab yang jelas.

Karna kegagalan tersebut aku mencoba mencurahkan ini kepada seorang teman yang begitu bisa dipercaya, Hampir semua tak ada yang terlewat satu kalimatpun aku ceritakan kepadanya. Berganti setelah aku selesai menceritakan kegagalanku, kembali dia yang bercerita tentang masalahnya, kamipun saling bercerita, saling support, saling memberi semangat. Nah, dari situasi seperti itu cita-cita kembali hadir untuk bisa menjadi seorang psikolog, Mengapa? karna yang aku tahu, seorang psikolog sangat mahir membantu memecahkan sebuah permasalahan seseorang. Kembali, lagi dan lagi cita-cita menjadi seorang psikolog meredup ketika begitu sibuknya dengan aktivitas dikampus pada saat itu.

Hari-hari yang penuh dengan kegiatan yang menyita cukup banyak waktu dan tenaga, dari membuat kegiatan, melakukan aksi sosial dan turun kejalan melakukan demonstrasi mengkritisi kebijakan-kebijakan yang tidak sesuai dengan keinginan orang banyak. Ya! mungkin karna terlalu sering berhadapan dengan para pejabat, kepala daerah dan elit-elit politik, ada sebuah ketertarikan untuk bisa menjadi seorang politisi. Apakah ini cita-citaku ? Ya, pada saat itu.

Namun, seiring waktu berjalan hal itupun berubah, ditambah lagi dengan banyaknya berita miring tentang panggung politik yang aku anggap begitu kejam, tak tahu mana kawan dan lawan yang sebenarnya. Meski begitu menyukai dan sekaligus membenci proses politik yang sedang berlangsung sekarang, aku tetap berusaha mempelajarinya, paling tidak ada pelajaran positif yang bisa dijadikan pengalaman dan menambah wawasan. Lalu, bagaimana dengan cita-citaku untuk bisa menjadi seorang politisi ?Hmmm. sepertinya akan aku pikirkan baik-baik sebelum berusaha untuk mengejarnya. Jadi, apa sebenarnya cita-cita saya ?!

Ya, Dari semua kisah yang pernah aku lalui, Akhirnya aku putuskan untuk menuliskan semua cerita yang pernah dilalui baik secara langsung ataupun tidak langsung yang aku dapat dari orang lain. Tepat sekali! Aku ingin menjadi seorang penulis! dan sekarang aku sudah mendapatkan cita-citaku. Menjadi seorang penulis, meski belum menjadi seorang penulis yang hebat, tapi setidaknya aku sudah bisa membuat tulisan ini.

Memang tidak mudah menentukan cita-cita apalagi untuk bisa mendapatkannya, tapi ada pernyataan yang sangat menarik dari beberapa sumber, "Yang sudah berusaha dengan keras saja tidak menjamin bisa mencapai cita-cita, Apalagi hanya berdiam diri dan berkhayal saja ?"


Sumber gambar : google
Selanjutnya

Sabtu, 26 Januari 2013

Titik Terendah

Titik terendah ?

Apa itu titik terendah ? Saya begitu bertanya tanya dengan sebuah pernyataan seorang teman pada beberapa hari yang lalu disebuah warung kopi yang mana biasanya saya dan teman teman sering berada disana untuk mengisi waktu luang."saya sedang berada pada titik terendah" begitu ucapnya. Ah, saya sungguh tidak mengerti apa maksudnya. Langsung saja saya mencoba menanyakan langsung arti dari pernyataan tersebut. Sebelum menjawab, dia bercerita tentang apa yang sedang dirasakan dan dialaminya pada saat ini. Meski tidak dijawab secara langsung olehnya tapi dari cerita tersebut saya mulai mengerti apa arti dari pernyataan tersebut "titik terendah".

Sebuah kegagalan yang dialami membuat dia merasa sedang berada diposisi paling bawah pada roda kehidupan ini. Anda pernah mengalami hal yang serupa ? Saya pikir hampir semua orang dan termasuk saya juga pernah mengalami hal semacam ini, dimana semua begitu sulit dan kekecewaan serta kegelisahan selalu menyelimuti atau bahasa saya adalah "terpuruk". Namun, Apakah keterpurukan ini akan selalu menghampiri atau segera berlalu ?

Saya kembali teringat dengan sebuah cerita pendek yang inspiratif, tapi maaf saya lupa siapa pengarang atau penulisnya. Disebuah desa ada seseorang memesan selingkar cincin yang diukir dengan sebuah tulisan untuk diberikan kepada kekasihnya, akan tetapi sang pemesan bingung harus menuliskan tulisan apa dicincin tersebut. Kemudian sang pemesan menyerahkan hal itu kepada ahlinya untuk membuat selingkar cincin yang indah dan berkata kepada sang pembuat cincin "saya mau pesan selingkar cincin dan diselipkan ukiran tulisan dicincin tersebut, tapi saya bingung tulisan apa yang tepat" sang pembuat terdiam sejenak lalu berkata "percayakan kepada saya untuk hal itu"
Selang beberapa waktu cincin itupun telah selesai, sang pemesan kian penasaran dengan apa yang ditulis sang pembuat dicincin itu. Ternyata hanya sebuah tulisan "Yang Ini Pasti Berlalu".

Mungkin bagi sebagian orang tulisan tersebut bukan sebuah tulisan yang hebat akan tetapi coba kita maknai arti dari tulisan tersebut. "Yang Ini Pasti Berlalu" , jika kita kaitkan dengan keadaan teman saya tadi, tulisan itu sungguh mempunyai makna yang luar biasa hebatnya. Siapa yang menginginkan situasi seperti itu? sepertinya tidak ada, akan tetapi terkadang kita bisa terjerumus kedalam keadaan seperti itu. Tapi yakinlah situasi itu akan segera berlalu. Memang sangat dibutuhkan kesabaran untuk berusaha melewati atau menyelesaikannya. Harapan itu selalu ada, jangan pernah menyerah atau putus asa. Yang terpenting adalah apakah tetap ingin berada dalam sebuah situasi yang penuh dengan keterpurukan ? tentu tidak kan ?


Sumber gambar : google
Selanjutnya